Namaku
adalah Imam seorang remaja biasa berumur 17 tahun yang tinggal di kota
tangerang, kota pinggirian jakarta. Seperti biasa hari senin pagi adalah hari
yang sibuk bagiku yang berstatus pelajar di sebuah sekolah menegah kejuruan di
daerah tangerang, hari ini aku sedikit terlambat bangun dan bergegas segera
menuju sekolah. Aku berencana berangkat bersama dengan teman baikku Agung, Ia
sudah menugguku di perempatan jalan sembari menaiki motornya. “sorry gung, gue
telat bangun tadi” sahutku sembari memberhentikan motorku di sebelahnya, “selaw
cok, yaudah gc cabut nanti gerbang nya keburu di kunci” kami pun langsung
tancap gas ke sekolah. Sialnya sesampai disekolah gerbang sudah di kunci dan
kami pun tidak bisa masuk kesekolah, akhirnya kami memutuskan untuk
pulang. Saat
kami terjebak lampu merah Disekitar perempatan di dekat sekolah kami, aku
melihat seorang pengemis paruh baya berumur sekitar 40 tahunan menggeram sambil
duduk di bawah tiang lampu merah.
Kupikir ia melakakukan itu semata-mata hanya karena kelaparan tetapi kejadian yang tak terduga terjadi, setelah ia lama menggeram sang pengemis langsung menyarang pengendara sepeda motor yang tepat berhenti di depannya, pengemis itu memukul, mencakar, hingga menggigit pundak sang pengendara motor dengan buasnya hingga memuncratkan darah ke pengendara motor lain, sontak aku, Agung dan pengendara lain kaget dan panik akan kejadian itu kami langsung tancap gas tanpa pikir panjang karena panic.
Setelah kejadian di lampu merah itu kami shock, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang kerumah dan menuju kerumah agung untuk membicarakan tragedi tersebut, dirumah Agung aku berencana ingin memberitahukan kejadian tersebut kepada orang tua agung, “lho agung? Mam? Kok gak sekolah?” Tanya ibu Agung. “biasalah mah, telat” sahut agung. “kebiasaan sih bangun nya telat mulu! yaudah langsung masuk gih” sembari menyapu halaman depan rumahnya. Kamipun masuk dan langsung menuju kamar agung, “gimana nih gung? Kasih tau gak tentang yang tadi?” tanyaku “kasih tau ajalah siapa tau orang tua gue tau tentang masalah gituan”.
Setelah berdebat cukup lama kami pun memutuskan memeberi tahu ke orang tua agung yang sedang menonton berita tentang kejadian di lampu merah tadi, “lho gung ini kan lampu merah dekat sekolah kamu?” Tanya ayah agung “i-iya ini tadi agung sama imam liat kejadiannya” sahut agung “terus kalian gapapa kan? Mam? Gung?” , “iya tante kami gapapa, Cuma agak shock aja litany tadi” sahutku. “pasti itu gara-gara virus ebola yang kian lama kian ganas, dulu virus ebola sempat menyerang dunia 4 tahun lalu tepatnya awal 2014 namun setelah melakukan penelitian para ilmuwan dapat mencegah virus tersebut dan sempat menghilang, hmm akhirnya virus ini malah menyebar lagi dan malah tambah parah” sahut pak santoso ayah agung.
*NOTE : Kalian tahu virus ebola yang belakangan ini menyerang dunia, dari berita yang kulihat di tv beberapa hari yang lalu virus ebola sudah berkembang menjadi virus yang sangat berbahaya dan dapat membuat orang yang terinfeksi menjadi lapar berkepanjangan dan buas, virus ebola ini dapat menyebar ke masyarakat melalui penularan dari manusia ke manusia. Penularannya akiba kontak langsung kulit, gigitan langsung, bahkan dari orang yang sudah meninggal yang terinfeksi kalau kita melakukan kontak ke orang tersebut. Virus ini juga dapat menyebar melalui binatang seperti anjing, kucing, babi, kelelawar buah, dan tupai mati yang terinfeksi.
Kami pun
menghubungi teman kami yang tadi sekolah dan mengundang mereka ke rumah agung
setelah mereka pulang sekolah, sekitar jam 13.00 mereka pun pulang dan
berkumpul di rumah agung. Yang datang kerumah agung adalah nando, nia, ika,
kelfin, dimas, desma. “tadi kenapa ga masuk gung? Telat?” Tanya nando “iya ndo,
tadi pasti pada tau kan? Kejadian di lampu merah itu?” sahut agung. “oh iya itu
katanya orang yang naik motor langsung dibawah kerumah sakit terus pengemis nya
langsung di tabrak sampe dilindas sama orang yang bawa mobil biar ga jatoh
korban lagi” sahut kelfin “itu gara-gara apa ya? Kok pengemis nya sampe buas
begitu?”
Tanya ika keheranan, agung pun menjelaskan kepada ika tentang apa yang terjadi, kamipun berdiskusi sambil bermain hingga jam maghrib dan kami pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.
Esok paginya
aku berangkat kesekolah seperti biasa dan benar saja orang-orang disekolah pun
membicarakan tentang kejadian itu, para guru pun menghimbau muridnya agar
berhati-hati.
Sekolah berjalan seperti biasanya hingga disaat jam terakhir kami mendengar teriakan seorang siswi yang sangat melengking seperti kesakitan, sontak anak-anak kelas kami pun heran dan langsung menuju sumber suara, disana sudah ramai dengan siswa yang mengerubungi siswi tersebut, para guru pun berdatangan, dan lagi kejadian yang sama terulang siswi tersebut menyerang siswa lainnya dengan buas dan menggigit, semua panic dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing, kulihat siswa yang tergigit oleh siswi tersebut bangun lagi dan mulai melakukan hal yang sama dengan siswi tersebut yaitu menggigit siswa lainnya.
Aku, dimas, kelfin, agung, langsung berinisiatif berlari ke parkiran mengambil motor dan langsung pergi dari sekolah, sialnya terlalu banyak siswa dan para guru menyelamatkan diri dan kami tidak bisa lewat pintu gerbang sekolah. Akhirnya kami naik ke lantai 2 dimana terdapat lab computer disana, kami ber empat pun langsung mencoba masuk kesana dan sialnya lagi pintu lab terkunci, kami mencoba mendobrak pintu tersebut “BRAK! BRAK!”
Berkali-kali kami coba dobrak tapi hasilnya nihil, akhirnya terdengar suara dari dalam lab “stop! Hentikan itu! Pergilah kalian mahluk aneh!” terdengar suara laki-laki yang kami kenal, dan ya sepertinya itu pak budi guru olahraga kami. “bukan pak! Kami bukan mereka! Kami masih normal! Tolong biarkan kami masuk!” sahut kelfin sambil berteriak, “benar pak!
Kami bukan mereka! Tolong izin kan kami masuk!” sambung dimas sambil menggedor pintu lab. “baik, baiklah tolong agak menjauh sedikit aku akan memastikan terlebih dahulu bahwa kalian bukan mereka, aku akan membukakan pintu sedikit dan mengintip kalian dulu, tolong menjauh lah sebentar!” jawab pak budi. “oke pak tapi tolong cepat” jawab agung, pak budi pun membuka pintu pelan-pelan dan mulai mengintip kami ber empat dan memastikan bahwa kami bukan bagian dari mereka dan membiarkan kami ber empat masuk ke dalam lab.
Ternyata sudah ada 2 orang murid yang masuk ke dalam lab tersebut, yaitu nando dan desma. Kami bisa mendengar teriakan kesakitan para siswa dan guru yang kesakitan, begitu pilu mendengar teriakan mereka. Waktu menunjukan pukul 5 sore Sudah 4 jam kami berada di dalam lab, kami pun mulai merasa lapar dan menyusun rencana untuk ke mini market di dekat sekolah kami untuk mencari makanan.
Rencana nya adalah aku dan kelfin akan pergi ke mini market tersebut sementara yang lain mengawasi diluar mini market, dengan menggunakan barang barang seperti besi, linggis dan kayu sebagai senjata.
Waktu sudah
menunujukan pukul 6 sore, dan kami pun memutuskan untuk memulai rencana kami,
perlahan-lahan kami berjalan menuju gerbang sekolah dan mencoba menyebrangi
jalan karena mini market tepat berada di sebrang sekolah kami, sangat sunyi
sekali.
Kami akhirnya sampai di mini market, sesuai rencana aku dan kelfin yang akan masuk ke dalam, aku & kelfin pun masuk kedalam, sangat berantakan sekali didalam sini dan hanya ada sorotan cahaya tv di minimarket yang menyala “oy ada yang masih hidup?” teriak kelfin sembari menyusuri mini market tersebut dan tiba-tiba sang kasir mini market yang sudah berlumuran darah di tubuhnya menyerangku dari samping karena reflek dan kaget aku pun langsung menusuk dada sang kasir tersebut dengan linggis, sangat menjijikan saat menusuk tubuhnya sangat lemah dan lembek aku merasa ingin muntah.
Kulihat ada kasir mini market lainnnya tergeletak dengan luka yang cukup parah di bagian leher, dengan sigap kelfin langsung menusuk kepala kasir mini market tersebut “dari pada nanti dia hidup lagi kaya tadi, kita juga yang repot nanti, cepetan kumpulin makanan sebanyak mungkin, terus cabut” sahut kelfin, kami pun mengambil makanan sebanyak yang kami bisa, dan kulihat ada radio didalam mini market tersebut dan kucoba nyalakan beruntung radio tersebut masih berfungsi.
Dengan ragu kucoba untuk mencari saluran yang masih siaran ternyata ada satu saluran yang masih siaran dan sang penyiar mengatakan “mungkin masih ada yang bertahan hidup sepertiku, aku bukanlah penyiar disini aku adalah OB di stasiun radio ini, dunia sudah kiamat orang-orang saling memakan satu sama lain, kerusuhan dimana-mana, lari lah kemana pun kalian bisa jangan sampai mahluk itu memakan kalian atau kalian akan berakhir seperti mahluk itu, tsk… tsk…” tiba-tiba saluran radio nya terputus, aku pun merasa ini adalah akhir dari dunia, dunia yang indah ini, “bagaimana orang tua ku? Bagaimana keluargaku?
Apakah meraka sudah mati atau menjadi mahluk mengerikan itu?” tanyaku dalam hati. “cok! Ngapain bengong gece keluar udah kelamaan kita disini” bentak kelfin sambil memukul pundak ku, saat kami keluar dan membawa satu troli makanan & snack. Saat kami menyebrangi jalan menuju sekolah kami melihat kepala sekolah berjalan sempoyongan menuju kami, desma pun berteriak kepada kepala sekolah untuk cepat mengikuti kami, bodoh memang kenapa harus teriak dan benar saja teriakan desma menarik perhatian beberapa mahluk zombie itu.
Dibelakang pak kepala sekolah trelihat 10 orang zombie berlari menuju kami, zombie itu menyerang kami dengan brutalnya. Nando memukul kepala zombie dengan kencang nya, aku dan kelfin pun mencoba mempertahankan diri dengan zombie tersebut dengan menyerang balik dan membunuhnya. Karena kami kalah jumlah dan kamipun akhirnya terpojok “anak-anak dengerin bapak, bapak bakal tahan mereka. saat itu kalian cepetan masuk ke sekolah, nanti bapak nyusul” sahut pak budi “tapi pak, itu bego banget bapak sendiri mereka masih berlima, gimana bisa menang?!” jawab nando “heh!
Gaboleh ngatain guru sendiri bego, jangan ngeremehin bapak juga! udah cepet bapak bakal tahan mereka, kalian cepet lari bawa juga makanan nya liat mereka udah deket tuh” jawabnya dengan senyum. Aku tahu pak budi tidak akan berhasil menahan mereka dan mengalahkan mereka tapi tidak ada pilihan lain.
Kami pun berlari sekencang munkin ke dalam sekolah dan saat menoleh kebelakang pak budi sudah tidak berdaya melawan 5 zombie tersebut, salah satu zombie bahkan sudah menggigit pundak pak budi dari belakang. Aku terus berlari ke sekolah bersama teman-temanku dengan sedikit perasaan kesal karena tidak bisa membantu pak budi.
Saat sampai di dalam lab dimas sontak langsung membentak desma “Ngapain sih lu pake teriak segala tadi?! Bego! Liat kan pak budi jadi korbannya, coba lug a teriak tadi!” bentak dimas, “udah-udah mungkin udah takdirnya kaya gini. Kita harusnya hargain pengorbanan pak budi bukannya malah ribut. Yaudah nih pasti pada laper kan?
Ayo deh makan dulu abis itu berdoa buat pak budi” sahut agung menenangkan suasana. kamipun mendoakan pak budi dan berterimakasih atas tanggung jawab dan keberanian mempertaruhkan nyawa demi melindungi kami muridnya, kulihat desma menestakan air mata, dan kami dalam suasan berkabung. Kulihat makanan yang kami bawa hanya cukup untuk 4-5 hari saja dan kami memutuskan tinggal di dalam lab sekolah untuk beberapa hari kedepan.
[TO BE
CONTINUED]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar