Story and written by : -Lucifer dan
Indratno
***
Handphone milik Theo berdering. Nadanya
menandakan bahwa panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal.
“Halo?” Theo mengangkat panggilan itu
sambil berjalan ke arah kamar mandi.
“Theo! Apakah ini kau?” sahut sebuah
suara perempuan yang mungkin seumuran dengan Theo dari seberang sana. Theo
berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengenali suara milik Lilitha, teman semasa
SMA nya dulu.
“Oh! Hai, Lil. Apakah kau Lilitha? Wah,
sudah lama sekali rasanya tidak berbincang ya. Bagaimana keadaanmu?” Theo tidak
bisa menghentikan pertanyaan untuk gadis yang pernah ditaksirnya dulu. Lilitha
memang cantik secara fisik dan mempunyai tubuh yang ideal. Bahkan menurut mata
lelaki, tubuhnya tergolong seksi.
“Tentu saja, aku baik. Bagaimana
keadaanmu sekarang?” jawab Lilitha dengan nada lembut.
Theo berbalik arah. Tidak jadi ke kamar
mandi, karena baginya ini pembicaraan spesial. Telepon dari orang yang pernah
disukai—atau mungkin memang masih—memang menjadi alasan khusus seseorang
meninggalkan apapun yang sedang ia kerjakan sekarang.
“Aku … yeah, seperti inilah. Mencoba
berjuang untuk hidup sendiri, dan mencari semuanya dari nol.” Terdengar nada
bangga dari perkataan Theo barusan.
“Wow! Apakah kau sekarang bekerja? Di
mana?”
“Mengelola semuanya dari rumah. Sebatas
programmer dan web designer, namun mereka membayar lebih atas semua kejutan
yang kuberikan.” Sepertinya Theo memang tipe yang suka menyombongkan diri.
“Bagaimana denganmu? Apa kau kuliah sekarang? Atau kerja?” Theo melanjutkan
pertanyaan yang terkesan beruntun.
“Aku membantu bisnis orang tua sekarang.
Hei, omong-omong, apa kau punya rencana hari Jumat minggu ini?” jawaban Lilitha
terdengar lebih semangat.
Theo berpikir sebentar. Sebenarnya ada
project yang sudah hampir deadline, tapi pertanyaan Lilitha terdengar seperti
ajakan untuk pergi ke luar yang membuat Theo memutuskan untuk mengesampingkan
pekerjaannya.
“Tidak ada. Jumat ini aku kosong, kenapa
memangnya?”
“Ini … bagaimana aku harus memulai …,”
Lilitha terdengar gugup saat berbicara. “Aku memenangkan tiket ke taman bermain
bernama ‘Wander Land’ yang ada di tengah kota sana, ada tiga tiket, namun aku
bingung harus pergi ke sana dengan siapa. Aku sudah mencoba untuk menghubungi
teman-teman lain, namun baru Fiura yang merespon dan mengatakan akan ikut.
Jadi, daripada tiket ini terbuang kalau hanya aku dan Fiura yang pergi, apakah
kau mungkin bisa … ikut?”
Theo tersenyum simpul saat mendengar
ajakan Lilitha. Tepat dugaanku, pikir Theo. Ia terlalu senang sampai-sampai
butuh beberapa detik terdiam untuk mengkhayal. Ditambah, Fiura juga salah satu
gadis cantik yang ada di kelasnya waktu SMA dulu. ‘Ke taman bermain bersama dua
gadis cantik? Kenapa tidak?’ batin Theo yang masih menghayal.
“Apakah kau masih disana, Theo?” tanya
Lilitha yang kebingungan karena tiba-tiba hening.
“I-iya … aku pasti ikut! Jumat nanti ya?
Oke oke! Di mana kita akan bertemu?” Theo merasa jantungnya berdegup kencang
karena senang. Dengan seksama, ia mendengarkan penjelasan Lilitha yang akan
menghampiri rumah Fiura terlebih dahulu dan rencana mereka berkumpul di depan taman
bermain itu tepat jam sepuluh pagi.
Usai pembicaraan panjang, Theo menutup
telepon dan berjingkrak senang. “Yes!” teriaknya, “Akhirnya!”
Terlihat senang memang, terlebih sewaktu
SMA, Theo adalah pria yang sampai lulus selalu memendam perasaannya kepada
gadis-gadis yang ia sukai. Mungkin baginya, cinta itu bukan sesuatu yang harus
selalu diincar. Lusa adalah hari istimewa baginya, kesempatan langka yang harus
ia manfaatkan.
***
Theo melirik jam berkali-kali. Terasa
gelisah saat kedua gadis cantik yang ditunggunya tak kunjung menampakkan batang
hidung mereka.
“Sudah jam sepuluh lebih, namun belum
juga datang. Dasar wanita!” Theo melirik mesin minuman otomatis yang berada
tepat di samping pintu masuk. ‘Mungkin satu kaleng soda bisa menemani,’
pikirnya saat melangkahkan kaki dan merogoh dompet. Theo memandangi
satu-persatu deretan merek minuman kaleng di hadapannya. Belum sempat Theo
memasukan koin ke dalam mesin minuman, terasa tangan-tangan putih nan mulus
merangkul dan memeluk lehernya.
“Boo!” seru suara seorang wanita.
Theo bergerak mundur sehingga bahunya
menabrak mesin minuman. Theo melihat dengan seksama sosok yang memakai atasan
berwarna merah dan rok berwarna hitam dengan garis merah. Rambut berwarna
coklat yang dibentuk bergelombang, dipadu oleh wajah menawan khas asia. “Lil …
Lilitha?” Theo tergagap melihat keanggunan wanita yang dari dulu tidak pernah
berkurang kecantikannya. Di samping Lilitha juga berdiri Fiura, memakai gaun
pink cerah dan membawa tas bergambar kelinci putih.
“Wah, kalian membuat jantungku hampir
copot!” Theo merasa dirinya salah tingkah. Kembali, ia memperhatikan
lekat-lekat kedua wanita tadi yang sekarang terlihat berbisik dan cekikikan.
‘Mimpi apa aku semalam, hingga bisa ditemani dua wanita cantik di Wander Land,’
pikir Theo yang diam membatu memandangi dua wanita cantik di depannya. “Udah
yuk masuk, keburu ramai loh!” Lilitha memecah keheningan dan membuat Theo terkejut.
“O … Oke.”
***
“Selamat Datang di Wander Land.
Perhatikan Sepatumu agar Tidak Rusak karena Terlalu Banyak Berkeliling.” Itulah
tulisan panjang yang menyambut mereka bertiga. Theo mengeryitkan dahi karena
merasa tulisan ini terbaca sangat aneh.
Taman bermain yang sangat terkenal di
kota ini, memiliki beragam wahana ekstrem dan menarik. Selalu ramai oleh
pengunjung setiap harinya, bahkan pengunjung dari luar kota.
Fasilitas-fasilitas yang membuat nyaman pengunjung juga merupakan salah satu ke
istimewaan dari Wander Land.
“Ramai sekali ya, sudah 2 tahun tidak
datang kesini … rasanya sangat berbeda.” Fiura menunjukkan wajah kagum yang
berseri.
“Jadi dulu kamu pernah kesini ?” Theo
bertanya, sekadar basa-basi. Fiura hanya mengangguk pertanda menjawab ‘iya’ di
saat dirinya terlalu sibuk melihat ke sekitar.
“Tas kamu lucu ya, Fiura?” Tanya Lilitha
sambil menarik pelan tas bergambar kelinci putih itu.
“Eh? Ah … iya ... ini tas pemberian
mendiang ayah ku,” jawab Fiura dengan pelan sambil memandang nanar ke arah
langit.
“Ooops, maaf. Tidak seharusnya aku
menanyakan hal ini,” terdengar nada penyesalan di ucapan Lilitha.
“Jangan terlalu dipikirkan, ini bukan
masalah besar, Lil ….”
Theo melihat suasana kaku di antara
mereka. “Hei. Menurut kalian, mana yang pertama? Roller Coaster, mungkin?”
tanya Theo dengan nada menggoda.
“Boleh, siapa takut?” Fiura kini
terlihat lebih bersemangat.
“Tunggu dulu, baru masuk sudah mau
mencicipi Wahana ekstrim?” Lilitha terdengar agak ragu.
“Ya sudah, ke mana sebaiknya?” tanya
Theo putus asa.
“Hei! Bagaimana kalo kita naik itu!”
Fiura menunjuk ke sebuah wahana. Bianglala dengan warna keemasan yang sangat
besar dan tinggi dengan hiasan dedaunan di pinggiran pintu yang membuat kesan
elegan.
“Haha, kau yakin mau naik itu, Fiura?”
nada bicara Theo terdengar meledek. “Ya sudah, yuk!”
Pada akhirnya, mereka berjalan menuju
bianglala yang menarik minat Fiura.
***
Pemandangan dari atas bianglala emas ini
membuat Theo dan Fiura terpana. Mereka dapat melihat keseluruhan wahana yang
ada di dalam Wander Land.
“Hei, kalian bisa melihat itu?” Lilitha
memecah keheningan saat menunjuk ke suatu bagian yang terdapat di sisi utara
Wander Land.
Theo dan Fiura memicingkan mata untuk
melihat lebih jelas wahana yang dimaksud oleh Lilitha.
“Kelihatan kan? Itu adalah Rumah Hantu.
Bagaimana kalo sehabis ini kita ke sana?” tanya Lilitha dengan nada menantang.
“Hah? Rumah Hantu?” Fiura terlihat
sedikit pucat. “Aku tidak mau ah, aku ta—”
“Hantunya bohongan, kok,” potong Lilitha
dengan senyuman kecil dan menyakinkan Fiura agar tidak takut.
“Iya, tapi ….”
“Kau tidak perlu takut, ada pejantan di
sini!” lagi-lagi nada bicara Theo terdengar sombong.
“Lagipula ...,” lanjut Lilitha. “Aku
memang berniat untuk mengajak kalian berdua masuk ke Wahana Rumah Hantu itu
tadi.”
***
“Ka-kalian … yakin?” Fiura menelan
ludah, memandangi suasana suram di luar pintu masuk wahana Rumah Hantu. Kali
ini, wanita yang memakai sepatu hak 5 senti itu merapat ke sisi Theo dan
membuat Theo salah tingkah.
“Apa yang kau takutkan? Sudah pasti ini
hanya bohongan.” Theo berusaha menenangkan Fiura dengan logika, sementara
Lilitha sudah beberapa meter melangkah di depan mereka.
“Ayo kalian, sampai kapan mau berdiri
dan menunggu wahana ini ramai? Akan lebih baik jika sepi, bukan?” Lilitha
nampak tak sabar untuk segera masuk ke sana. Fiura berkali-kali memandangi
poster besar bergambar badan seorang lelaki dengan kepala penuh darah yang
dipegang di tangannya. Sementara Theo sudah bergerak maju, hingga mau tak mau
Fiura juga mengikuti langkah mereka.
Tirai hitam menyambut di hadapan mereka,
dengan beberapa papan peringatan yang berisi larangan untuk masuk bagi orang
yang menderita penyakit jantung, asma, ataupun penyakit kronis yang bisa kambuh
sewaktu-waktu. Lilitha menyibak tirai dan melangkah masuk ke dalam, diikuti
oleh Fiura dan Theo.
Bau anyir menyerbak di udara seakan
memaksa hidung mereka menghirupnya. Ruangan di balik tirai hitam hanya
diterangi oleh lampu-lampu tempel redup bercahayakan jingga. Selain itu, tidak
ada apapun. Hanya lorong kosong dengan dinding batu. Bagai di dalam gua, pikir
Theo.
Lilitha bertanya seakan tidak terusik
dengan bau anyir itu. “Sepertinya di depan ada jalan bercabang, bagaimana kalau
kita ambil jalan yang kiri?”
Theo dan Fiura menutup hidung untuk
menahan bau anyir itu. “Terserah kau saja,” ucap Theo sambil tetap menutup
hidung.
Mereka bertiga memilih jalan kiri dan
tiba pada suatu ruangan. Ruangan tersebut juga memanfaatkan cahaya dari lampu
tempel. Hanya saja, di ruangan itu ada sebuah meja dan tubuh manusia yang
terkoyak hingga mengeluarkan organ dalamnya. Di sisi lain ruangan itu, terdapat
dua tubuh berjubah hitam yang berdiri mematung dan hampir membuat Fiura
berteriak karena ngeri.
“Tenang saja,” sahut Lilitha sambil
berjalan ke arah dua tubuh berjubah tadi. “Lihat, hanya boneka …,” Lilitha
dengan santai menyentuh tubuh-tubuh itu.
“Zrekk!”
Di belakang Theo dan Fiura, tiba-tiba
saja ada empat orang yang berjubah hitam—dengan jubah yang persis sama dengan
‘boneka’ yang disebut Lilitha—membekuk Theo dan Fiura dengan cepat dan menutup
mulut mereka dengan sebuah kain.
“Yang asli, di sana …,” Lilitha
tersenyum aneh, sambil menunjuk ke arah mereka. Wanita itu kemudian berbalik
dan menempelkan tangannya ke dinding di dekat ‘boneka’ berjubah tadi.
“Dorchadas, An Anam, llame rio Estigia.
Thaispeaint dom an tiarna dorchadais!” Lilitha yang meracau dalam bahasa yang
tidak dimengerti oleh Fiura dan Theo, membuat dinding yang disentuhnya
berpendar dengan warna hitam. Bagai terbakar oleh sebuah api hitam, dinding itu
menjadi sebuah jalan baru. Tanah gersang dengan langit hitam, kini tersaji di
hadapan Lilitha.
Theo berusaha melawan, namun cengkraman
mereka sangat erat. Sementara Fiura hanya bisa diam dengan tatapan lesu.
Seketika Lilitha berbalik dan tersenyum picik ke arah mereka.
“Kau tahu, Fiura?” Lilitha berkata
lirih. “Laki-laki yang menjadi tumbal pada Jumat tanggal 13 setahun yang lalu,
memiliki nama belakang Anderson. Nama yang sama dengan nama belakangmu, huh?”
Fiura melotot, menghentakkan badannya
dan berusaha berteriak. Kali ini ia terlihat marah, kemudian air mata mulai
menetes.
“Ayah dan anak yang malang. Bisa
terjebak ke lubang yang sama dengan bodohnya. Uh-oh, aku lupa. Kau tidak ikut
waktu itu. Yang diajak ayahmu adalah seorang wanita seksi yang umurnya kira-kira
lebih muda dari ibumu …,” Lilitha berkata dengan nada menyindir.
“Enam ratus lima puluh tujuh, dan enam
ratus lima puluh delapan. Sisa delapan orang lagi, penguasa kami bisa bangkit.
Gerbang ini akan sepenuhnya terbuka tanpa harus menunggu hari Jumat tanggal 13
… dan kami, bisa menguasai dunia! Hahahaha! Perjuangan buyutku selama
berabad-abad akan membuahkan hasil. Tidak sia-sia kami memutar otak untuk
mempertahankan satu-satunya gerbang menuju dunia iblis ini. Hahahaha!”
Lilitha berjalan menuju Theo, menyentuh
pipi dan menjilat daun telinga milik laki-laki itu. “Kau tahu, Theo sayang? Aku
bisa mendengar semua yang kau pikirkan, bahkan ketika kau berpikir mesum
tentangku saat SMA dulu. Tempat ini seperti gua, hah? Tebakanmu benar! Ini
adalah gua, sekaligus pemandian air panas! Penginapan! Yang pada akhirnya
menjadi sesuatu yang memuat emosi puncak dari manusia ...! Taman bermain! Ups,
maksudku, Rumah Hantu. Hahahahahaha!”
“Bawa mereka ke altar.” Perintah Lilitha
secara tegas dan dengan cepat dipatuhi oleh orang-orang berjubah tadi. Mereka
berjalan, menuju lubang api hitam yang terbuka.
***
Rabu, tanggal 11, satu tahun setelahnya.
Freido sedang memainkan game di komputer
saat handphonenya berdering. Terpaksa namun penasaran, ia harus menghentikan
sejenak game yang dimainkannya.
“Ya, halo?” sahut Freido dengan nada
malas dan sedikit kesal karena terganggu.
“Freido? Apakah ini kau?” sahut sebuah
suara wanita di ujung sana. Freido mencoba menebak asal suara itu, namun gagal.
Karena terasa hening sekian detik, lawan bicara Freido kembali bersuara.
“Ini aku, Lilitha. Teman SMP-mu!”
Freido mencoba mengingat dan menemukan
sosok Lilitha diingatannya. Panjang lebar mereka bercerita tentang kehidupan
masing-masing, hingga Lilitha bertanya, "Jadi, apakah kau ada acara, Jumat
besok?"
—Harusnya Selesai—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar